A password will be e-mailed to you.

MASTER TATO TEBORI JEPANG | INK IN HARMONY

Oguri yang dikenal di Jepang sebagai Hirohide, namanya ketika menato, adalah seorang seniman terkenal dan sangat dihormati sebagai salah satu pionir yang membawa seni rajah tubuh Jepang ke Amerika pasca Perang Dunia II, seperti halnya Sailor Jerry dan selanjutnya Ed Hardy. Demikian ia merancang panggung untuk desain tato body suit dan mengubah wajah seni rajah tubuh barat pada paruh terakhir abad 20. Berikut adalah cerita dari mulutnya sendiri.

Pada masa lalu, tatois Jepang bekerja di rumah mereka sendiri dan menjalankan bisnis mereka diam-diam (tanpa iklan). Mereka tidak memasang plang nama dan menaruh nomor telepon mereka di buku telepon. Praktek rajah tubuh adalah pekerjaan yang dilarang di Jepang (sampai akahir Perang Dunia II). Pelanggan biasanya menemukan studio tato melalui cerita dari mulut ke mulut.

Ketika aku masih magang, budaya feodal masih hidup di Jepang. Kegiatan magang ini adalah salah satu bentuk budaya feodal yang disebut uchideshi. Biasanya murid magang tinggal bersama gurunya, dan dilatih selama 5 tahun. Setelahnya, murid magang itu bisa bekerja sendiri, dan memberikan uang yang diperolehnya dari bekerja selama satu tahun kepada gurunya. Pengabdian selama setahun ini disebut oreiboko, hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa terima kasih si murid pada gurunya. Biasanya si guru akan memberitahukan murid baru mengenai sistem ini ketika mereka mulai magang.

 

Ketika aku masih magang, budaya feodal masih hidup di Jepang. Kegiatan magang ini adalah salah satu bentuk budaya feodal yang disebut uchideshi. Biasanya murid magang tinggal bersama gurunya, dan dilatih selama 5 tahun. Setelahnya, murid magang itu bisa bekerja sendiri, dan memberikan uang yang diperolehnya dari bekerja selama satu tahun kepada gurunya. Pengabdian selama setahun ini disebut oreiboko, hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa terima kasih si murid pada gurunya. Biasanya si guru akan memberitahukan murid baru mengenai sistem ini ketika mereka mulai magang.

Aku tidur di studio guruku ketika masih magang. Aku ingin menjadi seniman tato hebat secepat mungkin. Pada tengah malam, Aku mengambil jarum dari kotak kerja guru, bersila dan mempraktekkan tehnik tato pada pahaku tanpa tinta sambil mengingat-ingat bagaimana guru melakukannya pada pelanggannya. Aku menggunakan bambu tebal sepanjang kira-kira 20 cm untuk sujibori (outline). Tepian bambu ditajamkan, 6-7 jarum diletakkan berurutan disana dan diikat dengan tali sutra. Panjang ujung jarum sekitar 3-4 mm. Aku selalu mempraktekkan ini tiap malam setelah bekerja. Aku tidak tahu bagaimana menggunakan alat tato ini dan bagaimana caranya menyelaraskan sudutnya. Terkadang aku merobek kulitku terlalu dalam dengan jarum dan membuatnya berdarah serta membengkak. Pada siang hari aku melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Kalau sedang tidak bekerja, aku duduk disebelah kiri guru dan melihat bagaimana ia bekerja dari kejauhan.

Setiap pelanggan datang pada guru melalui janji terlebih dahulu dan mendapatkan hitoppori (ditato selama 2 jam tiap harinya). Jika sebuah tato berukuran besar selesai dikerjakan, pelanggan kemudian datang setiap hari ketiga. Dulu aku biasanya duduk selama 2 jam penuh dan melihat bagaimana tangan guru sembari mempelajari kemampuan menatonya. Guru kemudian akan berkata, “Aku tak akan mengajarimu. Kamu mencuri tehnik ku dengan melihat aku bekerja.” Jika seseorang ingin benar-benar belajar, melihat adalah cara tercepat untuk belajar, lebih cepat dari sekedar mendengarkan suatu pelajaran. Meskipun aku sangat antusias, kemampuanku tidak berkembang dengan gampang. Aku tidak bisa melihat perkembangan yang telah aku dapatkan sama sekali.

Suatu hari istri guruku memintaku untuk memotong kayu. Murid biasanya memanggil istri gurunya dengan sebutan ane-san atau okami-san. Istri guruku terlihat senang kalau kupanggil dengan sebutan ane-san, jadi selama magang demikian aku memanggilnya. Ane-san lah yang menceritakan tentang guruku,  “Seluruh kakinya penuh dengan tato. Kamu mengerti maksudku? Suamiku berkata bahwa ia belajar menato kakinya sendiri ketika ia masih menjadi seorang murid. Itulah mengapa kakinya hitam. Ia juga berkata padaku bahwa seorang tatois perlu belajar menato tubuhnya sendiri untuk bisa menjadi tatois profesional. Tak ada apapun yang bisa digunakan untuk mengganti kulit manusia. Jadi kamu harus belajar menato dengan menggunakan tubuhmu sendiri.”

Setelah mendengar cerita ini, aku ingat kalau guru memiliki tato dari lengan sampai pergelangan tangannya tapi aku tidak pernah memperhatikan kakinya. Aku penasaran, apakah aku mesti belajar menato dengan tinta. Jika tidak aku tidak akan tahu bagaimana tinta dimasukkan ke kulit. Aku memutuskan untuk menguasai tehnik ini bahkan jika sampai seluruh kulitku menghitam tertutup tinta. “Aku tidak akan menyerah. Jika aku meneyrah aku tidak akan menjadi lelaki sejati.” Sejak saat itu aku berlatih menato tiap bagian kaki mulai dari paha sampai pergelangan kaki setiap hari. Dengan tujuan bisa praktek terus menerus, aku memutuskan untuk tidak menggunakan tinta.

Ketika masih magang itulah aku diajari cara membuat jarum tato. Setiap tatois punya caranya sendiri untuk membuat jarum. Aku meletakkan 7 jarum berurutan, dan membengkokkan ujungnya lalu membentuknya seperti kipas. Bagian tengah jarum digunakan sebagai ujung kipas, dan sisanya diturunkan. Ketika membuat garis tipis, aku menggunakan 2 atau 3 dari 7 jarum tersebut, dengan menyesuaikan sudut jarum pada kulit. Normalnya ketika membuat outline, aku menggunakan hanya bagian tengah dari susunan jarum-jarum tersebut.

Untuk membuat detail, beberapa tatois menggunakan alat berbeda yang terdiri hanya dari 3 jarum, tapi tatois profesional bisa membuat tato apapun yang mereka mau dengan menggunakan hanya satu set jarum untuk outlining, mereka tidak perlu menggunakan alat tato lain. Mereka bisa menggunakannya untuk membuat garis tipis, lingkaran kecil, dan lain-lain hanya dengan satu alat tato. Contohnya, jika aku membutuhkan tinta lagi setelah menato dari kiri ke kanan, aku akan melakukan kaeshibari (memutar jarum). Kaeshibari adalah salah satu tehnik memutar sisi alin jarum dan menato menggunakan sisa tinta dari sisi lain.

Horimono artinya tato dalam bahasa Jepang. Hori atau horu adalah menggores atau menggali, dan mono artinya sesuatu. Menato mirip seperti mengukir, sebuah tato bukanlah gambar. Ia seharusnya diapresiasi dengan jarak waktu sekian tahun. Apa yang diekspresikan melalui tato semestinya bisa dikenali dari jarak jauh. Jika tato terlalu detail, sangat susah untuk melihatnya dari jarak jauh. Dalam beberapa hal, seperti halnya sebuah pahatan, tato mestinya kasar dan drastis.

Tebori atau tato dengan tangan membutuhkan tehnik spesial. Ia mesti dilakukan dengan menusukan jarum kek ulit dengan lembut, dan menyelaraskan kekuatan tangan karena kulit manusia sangat lembut dan elastis. Untuk sujibori (outlining) aku mencelupkan jarum ke tinta dan membuat garis sepanjang kira-kira 1 sentimeter dan dilakukan terus-menerus dengan tempo yang sama, apapun desainnya, aku melakukannya sedikit demi sedikit sampai full body tattoo  terselesaikan. Sedangkan untuk bokashibori (shading) aku menyiapkan set dengan 12 dan 13 jarum, setiap set dibentuk seperti kipas. Set 12 jarum diletakkan dibawah set 13 jarum dan diatur dengan sedikit menarik set 12 jarum sedikit ke belakang.

 

Sekarang ini tatois Jepang banyak memesan jarum dari pabrik. Sewaktu aku masih belajar, aku membuat jarum tato dengan menggunakan jarum jahit yang paling tipis, banyak diantaranya tidak memiliki ujung yang bagus. satu pak berisi 25 jarum, setengah darinya tidak bagus. Saat itu kami menggunakan tinta yang disebut sakarazumi, sekarang ini kami menggunakan baikaboku untuk menato, yang terbuat dari jelaga minyak masak. Tinta kaligrafi yang terbuat dari jelaga resin tidak cocok untuk tato karena warnanya tidak tahan lama.

Tatois yang tidak pernah magang dan dilatih oleh seorang master tato tidak tahu alasan atau makna dari sebuah desain tradisional. Contohnya, ada 4 musim (musim semi, panas, gugur, dan dingin) di Jepang, musim-musim ini diekspresikan juga dalam seni rajah tubuh. Artis tato Jepang yang sebenarnya mengekspresikan tiap musim pada karya tatonya. Tatois yang tidak terlatih akan membuat gambar ular dan bunga cherry, tapi secara tradisi hal ini salah. Ketika pohon cherry mulai berbunga pada bulan Maret di Jepang, ular masih berhibernasi dibawah tanah. Jadi ular dan bunga cherry tidak bisa dilihat pada periode yang sama. Dengan kata lain, tidak masuk akal jika ular dan bunga cherry digambar bersamaan.

Aku sangat senang dan mencintai pekerjaanku, selama aku masih bisa menggerakkan tanganku aku akan tetap menato. Dan aku juga sangat berterima kasih pada guruku, tanpanya aku tidak akan pernah menjadi seorang tatois.

 

Diterjemahkan dan diedit secukupnya dari : theselvedgeyard.wordpress.com