A password will be e-mailed to you.

KUSTOM KULTURE

Sebelum diterbitkan tulisan ini, sebulan yang lalu Magic Ink sudah cuap-cuap tentang “kustom kulture”, sampai akhirnya kita berkomitmen untuk menambah “kustom kulture” sebagai konten baru. Tidak membuat kaget, karena sebab-nya akhir ini memang sedang gencar-gencarnya issue “kustom kulture”. Untuk itu kita coba buka pintu-pintu rumah yang bernama “kustom kulture”.

Kustom Kulture merupakan neologisme (kata bentukan baru), digunakan untuk menggambarkan karya seni, kendaraan, gaya rambut, dan mode dari mereka yang mengendarai dan membangun Sepeda Motor juga Mobil di Amerika Serikat dari tahun 1950 sampai hari ini. Kemudian di kenal daripadanya adalah hot rod dan lowrider. Seiring waktu, masing-masing gaya yang berbeda itu disesuaikan, dicampur, dan dibentuk kembali dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi sesuatu yang baru. Lalu muncul Seniman seperti Von Dutch (Kenny Howard), Robert Williams, Ed “Big Daddy” Roth, Lyle Fisk, Dean Jeffries, Barris Bersaudara (Sam dan George Barris), bersama dengan banyak seniman tato, pelukis mobil, dan film dan acara televisi seperti American Graffiti, The Munsters (The Munster Koach, Drag-u-la). Dan dari mereka akhirnya lebih populer dengan sebutan kustom kulture. Di tahun 1960-an, kustom kulture biasanya diidentifikasi para pembalap drag, lalu dikenal lowriders pada tahun 1970-an. Subkultur lain yang memiliki pengaruh terhadap kustom kulture adalah Skinhead, Punk Rock, Metal dan Rockabily, kemudian Scooterboys di tahun 1980-an, dan Psychobilly tahun 1990-an. Menginjak era 2000-an sampai sekarang ini, Sekiranya seluruh konsep DIY “Do It Yourself” telah dapat memberikan gambaran tentang kustom kulture, ialah kepada setiap hal maupun kegiatan akan ditambahkan suatu kreasi atas diri mereka sendiri, yang melalui beragam pengaruh, dari apa yang mereka sukai, ide-ide mereka , atau apa yang menurut mereka keren, menjadi ciri khas tersendiri, menjadi karakter tersendiri, dan tentu berbeda. Jadi cakupan kustom kultur menjadi sangat luas.

Melihat perkembangan tersebut, sebenarnya kustom kulture hanyalah sebuah kata pinjaman, dipinjam dari asalnya negeri si “abang sam”. Sejatinya kita telah mengenal kustom semenjak berabad-abad lalu, sebagai contoh candi-candi di Indonesia (prambanan) lebih indah dan menarik dengan relief bentuk dan ornamen, di bandingkan candi-candi di Thailand yang terkesan kaku. Atau jika kita melihat mobil angkutan di era 60-70an, di mana mobil keluaran pabrik produksi tahun 40-50-an di ubah baik fisik dan fungsi, fungsi disini (dari mobil pribadi ke mobil angkutan) sebut saja oplet di Jakarta , atau becak motor dari Siantar Medan. Setengah abad fenomena tersebut telah menapak sejarah tersendiri, dan dapat kita petik sebagai sejarah kustom indonesia. Walau memang apa saja bisa kita kustom, namun kustom itu tidak serta merta mewakili apapun yang di ubah ataupun di kreasikan. Dalam konteks kendaraan, kustom itu sendiri adalah dimana mengubah dengan tidak menghilangkan fungsinya. Yaitu dengan memperhatikan estetika, kenyamanan, keamanan, di perlengkap dengan ‘dari sebuah kendaraan dapat mewakili story si empunya’. “Apalah arti dari kendaraan keren dengan tampilan keren, kalau masih kerepotan untuk mengendarainya” bukankah telah di ikrarkan semboyan “Live to Ride, Ride for Life”.

Akhirnya kustom kulture mencakup hal yang sangat luas, kustom itu sendiri sebenarnya muncul dari dalam diri seseorang. Kustom itu kreasi, imajinasi, inovasi untuk mencapai suatu identitas, lalu dengan kustom kita akan di kenal dengan diri kita sendiri, dan tidak ada salahnya untuk kita menyebut ruang itu sebagai “kustom kulture”.

@hambilly