A password will be e-mailed to you.

Kustom Kulture – Kedux Garage

Beberapa tahun lalu nama Naskleeng 13 (NK13) adalah nama yang disegani di Denpasar. Orang-orangnya tatoan, (terlihat) sangar dengan motor kustomnya. Banyak orang kemudian menganggap kalau NK13 adalah gank motor yang suka bikin rusuh seperti gambaran dalam film-film holywood. Dan bicara tentang motor anak-anak NK 13 pasti tidak bisa lepas dari nama Kedux, salah seorang anggota NK13 yang juga seorang bike builder. Motor buatannya beberapa kali menjadi juara di acara kontes-kontes motor (yang terakhir juara ketiga di Kustomfest 2013)

Beberapa waktu lalu, saya bertemu Kedux, demikian ia bercerita, “Dulu itu teman-teman sering nongkrong disini, minum-minum sampai pagi. Waktu itu aku punya satu majalah motor yang cukup tebal. Sambil minum majalah itulah yang kita perbincangkan. Ada yang mau membangun motor model ini, ada yang mau model itu.” Kedux sendiri waktu itu sudah punya motor kustom dengan shifter, suara knalpotnya bising, apalagi kalau masuk gang, “Tiap orang yang liat motor itu, berkomentar ‘motor naskeleng to’ atau ‘sat motor nenen e’ hahahaha.. Secara visual motor itu memang terlihat tidak begitu bagus, berkarat, komentar, “Motor naskeleng lewat.” sudah biasa aku dengar hahaha..” Demikian ia kemudian membuat tulisan “Naskeleeng” pada tangki motor itu, “Kalau ada yang bilang naskeleng, dia juga baca naskeleng di tanki, jadi impas hahaha..” Dan ketika teman-temannya mau membuat sebuah komunitas (kreatif), nama tulisan pada tanki motor itulah yang kemudian dipilih. Saya sebut NK13 sebagai komunitas kreatif, karena didalamnya tidak hanya ada penggemar motor kustom, ada juga musisi, skater, builder, tato artis, dan lainnya.

Kedux adalah builder semua motor yang digunakan oleh anggota NK13 . Kedux mengawali aktivitasnya sebagai builder (dan melukis pinstripe) di sebuah bengkel Harley dekat rumahnya. Sedikit demi sedikit ia belajar mendesain motor. Sampai kemudian seseorang disana memintanya untuk belajar pinstripe. Segala macam majalah ia lihat, sambil belajar menggambar pinstripe, untuk itu ia membuat kuas kustom karena kuas biasa tidak bisa menghasilkan karya yang sesuai keinginnannya, “Mulai dari bulu kuda, kambing, anjing, sampai rambut manusia aku pernah pakai untuk kuas. Hasilnya selalu buruk, cat dasarnya selalu ikut tergerus, atau kurang tebal. Mau nanya juga bingung nanya siapa, karena aku ngga tau ada artis pinstripe di Denpasar.” Selama enam bulanan ia belajar tanpa hasil, sampai akhirnya seorang customer bengkel memberikan hadiah satu set kuas. “Satu set itu isinya lima kuas, harganya 2 juta. Bayangkan, tahun itu 2 juta bukan jumlah yang sedikit. Dan kuas itu ternyata memakai bulu tupai” Selama sebulan kuas itu tidak ia pakai karena sayang. Setelah akhirnya merasa cukup dengan segala macam percobaan yang tak membuahkan hasil, akhirnya ia menggunakan kuas itu dengan “korban” helm dan motor teman-temannya.

Pertama kali ia menghasilkan uang dari kuas itu setelah menggambari helm seorang customer bengkel Harley itu, “dibayar 700 ribu dan semuanya masih serba manual.” Dari uang itulah ia mulai membeli oven, perlengkapan airbrush, dan lain-lain. Karena merasa pinstripe ternyata menghasilkan juga, akhirnya sepulang dari bengkel, ia bekerja lagi di rumah membuat pinstripe. Setelah 3 tahun bekerja ia dipecat dari bengkel tanpa alasan yang jelas. Inilah awal berdirinya Kedux Garage.

Dengan modal nekat ia meminjam uang di bank dan mulai membangun motor. Meskipun demikian ia mengakui, “Hasil dari bengkel tidak seberapa kalau dihitung dari segi bisnis. Aku tidak mau disebut hanya tukang. Motor yang aku bangun adalah karyaku, butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun sebuah motor spesial. Karena motor kustom itu hanya ada satu diseluruh dunia, sama halnya lukisan monalisa. Sedangkan untuk hidup aku juga membangun motor pesanan yang terserah maunya customer.” Pengalamannya yang paling menarik adalah ketika ia membangun sebuah motor untuk seorang bule yang ia charge 40 juta, tak sampai satu minggu motor itu dijual dengan harga 80 juta. Setelah itu ia dihubungi oleh bule itu dan minta dibuatkan 10 replika untuk dijual di Australia. Namun karena masalah pengiriman yang terlalu ruwet motor itu tidak jadi dibawa kesana, dan untungnya pembayaran untuk Kedux sudah dilunasi.

Yang menarik dari Kedux adalah prosesnya membangun sebuah motor, mirip dengan pematung-pematung yang saya kenal. Bukan seniman yang menentukan akan menjadi apa sepotong kayu tersebut, tapi kayu itulah yang sudah membawa bentuknya sendiri. Kedux pun demikian, motor itu sendiri yang menentukan dirinya akan terlihat seperti apa, “Mungkin aku dibilang gila atau mengada-ada, tapi secara instingtif pada obyek sudah terlihat titik-titik mana yang akan dirubah seperti apa, jadi tinggal mengikuti titik-titik itu saja.” Apa yang dimaksud Kedux mungkin seperti melihat coretan-coretan yang kemudian direspon menjadi sebuah bentuk tertentu. “Aku bukan orang teknik, aku membuat sebuah karya yang dibentuk secara emosional. Aku mendapatkan teori ini dari proses mengukir/membuat ogoh-ogoh.”

Kedux sendiri adalah lulusan sekolah seni yang merasa tidak mendapatkan apa-apa di sekolah seni. “Sekolah seni yang aku bayangkan dulu adalah kita bebas dalam tataran karya, ada teori yang membatasi tapi tidak benar-benar menjadi pembatas benar-salah. Biarlah karya itu bebas, kuatkan pada teori. Tapi kalau sampai karya yang dibatasi, aduuuuuh…” Ya, kita semua tahu sekolah seni harus mengikuti kurikulum dan kurikulum inilah yang membuat sekolah seni mencetak (bukan menciptakan) seniman-seniman pro pasar dan akhirnya sinis dengan perubahan. “Misalnya dulu waktu aku dikampus, kalau mau menggambar, begini ngga boleh, begitu ngga boleh, trus mau gambar apaa?? Parno duluan sebelum berkarya dan akhirnya tidak menghasilkan apapun. Terus terang, dikampus aku ngga dapat apapun, aku lulus dengan tidak bangga.”

 

Eng :

Kedux Garage, is one of the most well known kustom garage in Bali. His works range is from pinstripe to kustom builder. The most interesting thing when he build a motor is likely sculpture artists which are the objects itself calls the tune. In other word, he don’t know how it will became, the motor itself deicide the shape after he “talks” to it. It sound weird, but mostly the Balinese sculpture works that way, the unshaped object instinctively take with them the shape and the artists just followed it. The other interesting thing is he made all of his works manually, and he doesn’t want merely called as a craftsman but an artist, his works is a work of arts.

 

1514811311