A password will be e-mailed to you.

ICON – STEFAN BUANA

Serangkum profil perupa Stefan Buana bak majas. Ada sarkasme dalam subjek lukisannya, metafor dalam tekniknya, juga beberapa tindak laku yang terasa paradoks. Hal-hal seputar dirinya memiliki daya hidup tersendiri. Dalam sebuah perbincangan ia terlihat begitu teatrikal; ekspresif, provokatif, dan mendebarkan.

Menghadirkan karya yang konstektual masih menjadi rutinitas dalam pengkaryaan Stefan Buana akhir-akhir ini. Ada yang menarik dari kerja visual pria berdarah Minang ini. Karya yang diberangkatkan dari wacana (sosial-politik-lingkungan) bersanding erat dengan berbagai eksperimen artistik ala semangat avant-gardian. Dalam hal gaya ia menawarkan ‘tekstur semu’. Ditilik lebih jauh, tekstur semu jika dipandang adalah gambar yang memiliki tekstur, namun jika diraba sesungguhnya datar. Ini semacam tipuan visual. Memang tekstur dalam karya Stefan lebih bersifat visuil ketimbang ritmis. Kini, ia tengah menyiapkan pameran tunggal di Taman Budaya Yogyakarta. Jikalau terlaksana tahun depan, maka tepat satu dekade atas momen pameran tunggalnya di tempat yang sama. Pada 2006 ia pernah menghentak publik dengan pameran “Batik Gempa”, yang kelak daripadanya dikenal motif “Parang Lindu”.

Stefan bukanlah tipikal seniman nyaman, yang lantas hanya menggambar, berpameran dan menikmati hasil jualan karya. Dari punggungnya terlampir berbagai persoalan, baik beban atas kehendak diri maupun yang sengaja orang lain sampirkan. Sebut saja soal situasi politik terkini, kondisi kesenian tanah kelahiran, hingga masa depan generasi perupa. Ada cerita menarik, suatu hari di kediamannya, Barak Seni, dipilih sebagai lokasi musyawarah besar komunitas seni Sakato, kelompok perupa Minangkabau. Dalam momen ini, Stefan sengaja menjebol tembok rumahnya agar ruang terasa lebih luas. Selepas terselenggaranya hajatan, ia biarkan saja bekas jebolan tembok. Tepian tembok dibiarkan seadaanya dari bekas gempuran. Sebelumnya, tukang yang diberi tugas untuk menjebol tembok sempat ragu dan menanyakan “Serius pak ini mau dijebol?” ia menjawab “Udah jebol aja! daripada tembokmu yang aku jebol, kamu mau?”. Stefan cukup tersenyum kecil jika mengingat peristiwa itu. Sembari sesekali memandang tepian tembok, “Ini sebagai kenangan” ungkapnya pelan.

Kepedulian terhadap lingkungan tidak bernapas di karya saja. Ia menghadirkan “Barak Seni” di gelanggang sosial seni rupa. Sebuah ruang seni yang dimaksudkan untuk menggembleng para perupa muda agar memiliki mental siap tempur nan tahan banting. Barak sendiri memang identik dengan militer, tempat dimana biasanya orang berkumpul, semisal pasukan perang. Namun disini tidak semena-mena bermaksud memiliterkan seni. “Justru jiwa militan yang ingin kita tanamkan”. Mandiri, berdaya juang, sportif, dan disiplin merupakan sikap yang hendak dibentuk bagi para seniman. Sejauh ini Barak Seni tampil secara egaliter, menerima semua etnis dan siapapun yang datang dengan semangat berkesenian.

Selanjutnya…

1 2