A password will be e-mailed to you.

LIONK TATTOO

Setelah beberapa waktu lalu dengan santainya menemukan seorang living legend (lihat Magic Ink edisi 41) tatois Denpasar, sekali lagi nasib baik mempertemukan kami dengan seorang kampiun dari Gianyar, Lionk Tattoo. Lionk sebenarnya tidak berasal dari Gianyar, melainkan dari Tabanan. Tapi ia memulai karirnya dan besar di Gianyar. Pada mulanya ia adalah seorang murid SMSR jurusan grafis yang bandel, anak bandel ini sempat bercita-cita menjadi seorang seniman terkenal. Nasiblah yang kemudian membawanya menekuni dunia tato.

Bagaimana ceritanya bisa terjun ke dunia tato?
Dulu awalnya saya liat cara kerja mesin tato yang saya pikir sederhana, alat ini kerjanya maju mundur aja, pasti bisa bikinnya. Di sekolah saya dulu juga diajarkan menggambar ilustrasi, saya pikir tinggal memindahkannya kekulit saja. Lalu ada teman-teman yang mau kulitnya saya tato. Jadi antara saya nato dan bikin mesin dulu itu selalu bersamaan, artinya ada temen yang minta ditato, trus mesinnya saya sempurnakan. Karena punya mesin baru jaadi pengen nato lagi, begitu terus. Saya cukup beruntung, karena selalu dapat kulit untuk latihan. Coba sekarang, mana ada yang begitu. Orang pasti berpikir, apakah karya tatois itu bagus atau tidak, baru mau ditato.

Dari awal memang ingin jadi tatois?
Nggak, dulu cita-cita saya, mabuk gak mabuk ingin jadi seniman besar. Waktu itu saya berpikir, ngga mungkin saya jadi pelukis karena jurusan saya grafis, padahal sebenarnya mungkin aja. Akhirnya saya pilih tato sama sablon, mana yang bisa buat saya lebih mapan nantinya. Ada kejadian waktu sedang nyablon, ada yang minta tato.saya tinggalin sablonan. Akhirnya ga bisa fokus, saya pikir harus ada yang dikorbankan. Akhirnya alat-alat sablon saya kasi teman, dan saya serius menato, walaupun secara penghasilan lebih sedikit. Awalnya saya nato di kost, trus tahun 85 saya buka studio kecil di depan sekolah SMSR. Jadi waktu itu saya nato sambil sekolah. Setahu saya waktu itu Cuma ada empat studio, studionya Bli Gede (Surya a.k.a Pak De Wangaya, Lihat Magic Ink edisi 41 –red.), studionya Alit, sama di Sanur ada De Gin dari Singaraja sama kakaknya, Sonteng di Lombok. Trus sekitar tahun 87 – 88, saya kerja di Kuta, tapi masih panggilan waktu itu. Karena itulah saya mulai dikenal orang-orang, dan mereka mulai mendatangi studio saya di Batubulan, meskipun studionya mirip kandang ayam hahahahaha tapi yang penting saya hanya memakai satu jarum untuk satu orang. Waktu itu sehari saya bisa menato sampai 12 orang sehari. Karena itulah saya sempat berpikir mau membuka studio saya di Kuta saja. Tapi tidak diijinkan oleh guide-guide yang sering membawa tamunya ke studio saya di Batubalan, karena itu akan mengurangi uang transport mereka. Ya sudah, akhirnya saya tetap di Batubulan, dan untungnya waktu itu setiap hari ada saja tamu yang datang.

Selanjutnya…

1 2