A password will be e-mailed to you.

Dari sisi seorang photogrpaher, bagaimana bung memandang perjalanan / perkembangan tato di Indonesia ?
Melihat perkembangan tato tradisional, lumayan oke, gw buat dokumter photo arus balik tato tradisi yang bercerita tentang perkembangan kawan-kawan yang mulai mendalami tato tradisi. Tapi dari skala berapa banyak seniman tato, kaga ada satu persen bro. Orangnya masi keitung jari. Yang bener-bener mengkaji dan berdampak baru 2 orang, Durga (Mentawai) dan Hendra (Iban), padahal suku Dayak seabrek-abrek itu punya budaya tato, Maluku, Sumba, Papua, belum ada yg mengkaji secara langsung.

Saat ini bermunculan orang-orang yang mulai konsen di tato tradisional, bagaimana Bung Refi melihat hal ini?
Sorry ya gw selalu ngawur kalo ngobrol-ngobrol tentang photo dokumenter jangka panjang. Kita banyak tato-tato artis yang penampilannya tribal tapi masih belum berani masuk hutan dan bersilaturahmi ke masyarakat adat. Mengenaskan bro, kalau secara finansial, bohonglah kawan-kawan kaga sanggup. Karena perjalanan mereka akan berdampak juga ke keperkembangan tato tradisi. Selama ini hanya copy paste dari buku-buku dan yang menarik lagi muncul tato dengan motif gorga, Chay Siagian. Ok.berani, dan berdampak ke kawan-kawan Batak juga. Gw selalu nyaranin ke kawan-kawan muda yang mulai makin keren eksplor motif tradisi, sangat bangga dan salut ke kawan-kawan yang mengkoleksi. Sekarang tanpa disadari kawan-kawan sedang mengarsip motif-motif dari kain, kayu, ukiran, dll. Makin berkembang. Ya itu, mereka mesti datang langsung ke kampungkkan kekurangannya.

Dari sudut pandang Bung, bagaimana kondisi dan situasi tato Nusantara dan juga kehidupan sukunya saat ini?
Dampak dari Durga dan Hendra sangat signifikan sekali bro, khusunya untuk anak-anak suku yang makin bangga, dan itu sangat terlihat. Cuma yang perlu digaris bawahi, yang Hendra dan Durga lakuin itu bukan tato ADAT (dilakukan secara prinsip, dan aturan adat). Mereka ibarat tattoo artist penegur, istilahnya jangan gw yang lebih ngerti budaya kalian, kalau bisa anak-anak suku yang lebih pandai. Dan itu berjalan di Mentawai dan Iban. Gw percaya, masyarakat adat itu pinte-pinter bro, bertahan sampe sekarang udah istimewa banget. Walau pergesaran jangan ditanya ya. Gila, ini uda tahun 2015, sejarah asli khususnya tato masi ditabukan, kan mengenaskan sekali. Jauh sebelum agama dan negara diterima di tanah ini tato sudah menjadi bagian terpenting di beberapa suku bangsa di Indonesia

Seharusnya seberapa penting peran negara / pemerintah dalam memelihara tato tradisional? Dan sampai hari ini bagaimana realitanya?
Semua ini, galeri jalanan dan tato museum, gw udah ngomongin ke orang-orang macam dewan kesenian, yang mana itu seharusnya kerjaan yang mereka buat. Tapi nunggu mereka buat… ya tau lah lo bro, kalau negara-negara tetangga buat tato museum juga baru ikut ribut dll. Karena kemungkinan itu besar sekali, kalau kawan-kawan Serawak buat Borneo tato museum, selesailah kita. Mau ditaruh dimana kegagahan tato-tato artis Indonesia bro. Dan Serawak sangat berhak membuat Borneo tato museum, dan ini lagi dibangun. Peran pemerintah itu sangat penting, tapi mereka sampai hari ini masih OON atau pura2 kaga paham budaya tato di suku-suku adalah salah satu bentuk penolakan atas penjajahan dan itu masih berlangsung khususnya di Siberut dan para Sikirie yang masih beragama Arat Sabulungan.

1 2