A password will be e-mailed to you.

IWAN WIJONO

“Iwan Wijono, bukanlah nama asing jika kita bermaksud menggelar pesta Seni Kontemporer Indonesia, terlebih di wilayah Performance Art. Topik ‘identitas’ bisa jadi pintu pembuka menuju dunia keseniman-nya, melalui berbagai aksi, betapa Iwan ingin berbicara ‘sejauh mana kita telah terjerumus’. Di sebuah perjumpaan, ia tengah sibuk dengan gelaran seni kali pertama bertajuk “Biennale Terracotta”, dan lagi-lagi masih seputar identitas”

Menjabat sebagai Direktur Artistik gelaran kesenian ‘Biennale Terracotta’, bisa diceritakan tentang acara tersebut?
Melihat karya yang berkembang juga pameran-pameran di Jogja sekian banyak-nya minta ampun, sering kita tidak bisa membedakan dengan karya yang ada di luar (negeri-red) sana, mana kepunyaan kita mana kepunyaan mereka. Kita mencoba kembali ke diri sendiri, dengan cara melihat akar diri kita, menengok kebelakang, kemudian kita merekonstruksi identitas juga misi leluhur. Akhirnya kita menemukan terra cotta. Kita tampil hari ini, sebagai pembanding perkembangan seni saat ini yang mirip-mirip barat.

Salah satu rangkaian acara Biennale Terracotta, terdapat workshop, screening, and talk “The Spirit Mentawai Tattoo”, apa yang mau disampaikan?
Untuk tato, tato bukan hanya milik barat, kita punya kebudayaan tato, baik tato spiritual dan material, jawa memiliki tato, dikenal dengan radjah, ada tato di jawa yang dibuat dengan kunir (dilancipi), itu tak terlihat dengan mata normal, hanya orang tertentu dan saat tertentu bisa kelihatan. Tatokentaldengan spirit doa-doadan ritual,tato itu bentuk ritual magis untuk hidup, yang dikenal sekarang kan Kalimantan dan Mentawai, Jawa punya. Tato berhubungan dengan terracotta karena di dapati banyak kemiripan,tato berlangsung bersamaan kebudayaan terracotta. Motif tato mewakili kehidupan masa tinggal di goa, berburu, juga sesuai dengan material yang ada pada saat itu. Hasil perbincangan kemarin menarik ada dari tim arkeologi, ‘tato primitif bersifat menembus jaman, sampai kini nyambung, tato menjadi penyeimbang kesenian’. Kami menghadirkan momen ini dengan melokalkan diri, sebenarnya kita mengglobalkan dengan cara cerdas.

Selanjutnya…

1 2