A password will be e-mailed to you.

“Saya tidak percaya dengan bakat, tetapi saya percaya dengan kemauan, ketekunan, konsistensi dan terus-menerus akan membawa sesorang menjadi “ahli” urusan uang dan ketenaran itu hanya bonus. Terus berkarya, berteman, berbagi dan bersenang-senang!

Rencananya awalnya adalah mewawancarai seseorang dari Pena Hitam. Setelah tengak-tengok, tanya-tanya, obral-obrol, dan mencari-cari kontak Pena Hitam, satu nama yang nongol; Didi Painsugar. Meskipun oleh beberapa orang (yang pernah saya temui) nama Didi (hampir selalu) dilekatkan dengan Pena Hitam, namun dia sendiri menolak hal tersebut. Hal seperti ini hampir selalu terjadi pada sebuah (katakanlah) kolektif yang mulai berkembang. Nama personal dan nama kolektif terkadang jadi sedemikian membingungkan. 

Apa ada kebingungan antara membawa nama mu sebagai personal dan membawa nama pena hitam? Atau nama mu sudah kadung menjadi semacam alias dari pena hitam vice versa ?lalu bagaimana menyiasatinya ? 
Nama sebagai Painsugar kan maksudmu? tidak, tidak bingung. Karena painsugar, DS.28 dan Penahitam adalah 2 hal yang cukup berbeda. Penahitam adalah milik banyak orang, sementara painsugar, DS.28 adalah proyek personal saya. Jadi rasanya gak ada siasat khusus, cukup belajar menempatkan diri dan cukup tau diri saja hehe

Awal ketertarikanmu pada dunia gambar itu gimana?
Awalnya melihat beberapa teman yang intens menggambar, saya belajar kolase digital dulu awalnya, terus kolase manual hingga mulai memberanikan diri corat-coret untuk diri saya sendiri, nah, sampai pada titik saya tidak punya kerjaan tetap di Jakarta, harus bertahan hidup dan membayar tagihan kontrakan dan sebagainya haha standard akhirnya saya buka gambar saya untuk teman-teman dulu, pada awalnya ada yang membayar dengan rekaman, t-shirt hingga sandal japit. Serius, akhirnya saya mulai tekunin walaupun sampai hari ini saya ngerasa sangat tidak pandai untuk menjaga konsistensi dan waktu belajar. Saya tipikal orang yang spontan dan mengalir hehe..

Lalu, penggambar idolamu siapa?
Banyak sekali, tapi ini beberapa Rio Krisma, Zdzislaw BeksiNski, Vania Zouravliov, Aaron Horkey, Brandon Holt, Garis Edelweiss, R Yudha Saputra, Dot Suffer, Waguna Wiryawan, Wild Drawing etc.

Rasanya tidak lengkap berbincang dengan Didi namun tidak membicarakan Pena Hitam. Meskipun Didi enggan label Pena Hitam dilekatkan setelah namanya, entah dia sepakat atau tidak, orang-orang telah mengenalnya sebagai (salah satu dari) Pena Hitam. Paling tidak, dari pengakuannya, dia adalah salah satu master mind dari Pena Hitam

Bagaimana sebenarnya ide awal pendirian Pena Hitam?
Pena Hitam ide awalnya adalah wadah kami untuk berinteraksi, berteman melalui karya. Kebetulan awalnya hanya 4 orang. karena saya masih tinggal di Jakarta waktu itu jadi susah sekali bertemu denga 3 org teman lama dan baru ini. Setelah punya diskusi, kami sepakat bikin pameran di warung kopi kawan, jadi ada alasan untuk kami berkumpul, mengundang teman2 lain untuk sekedar menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Setelah selesai pameran dan balik lg ke jakarta muncul pertanyaan, bagaimana komunikasinya biar mudah? maka kami buatlah grup di Media sosial, hingga tulisan ini saya buat member berjumlah 9.758 orang. Ide awalnya masih sama; persekawanan, kemandirian ya mungkin sudah tidak asing lagi kata ini; berkarya, berteman, berbagi dan bersenang-senang..

Bagaimana kamu Melihat perkembangan pena hitam yang sudah “punya” beberapa chapter sekarang ini?
Perkembangannya cukup membuat kami kaget. Karena sejujurnya. kami tidak berekspektasi menjadi sebesar sekarang, kami hanya ingin berkarya, berteman, berbagi dan bersenang-senang itu saja. Dan Seni kami pilih menjadi kendaraan kami untuk berinteraksi dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan dari berbagai tempat. Teman-teman akhirnya punya inisiatif membuat penahitam kotanya sendiri, dengan berkomunikasi dengan kami sebelumnya, jadi senang sekali. Tidak terikat, tidak terpusat dan tiap chapter tetap otonom. Perkembangannya cukup seru..

Selain hal standar seperti mengandung SARA fasistik, rasistik dan sejenisnya itu, karya seperti apa yang tidak mungkin masuk ke pena hitam (entah itu zine atau apapun)?
Karya yang gak asik dan gak seru. haha. ini pertanyaan bagus. karena sampai hari ini kami terus belajar untuk membuat karakter penahitam tetap konsisten dengan seni yang dianggap kebanyakakn kalangan seni ‘mapan; generik, “murahan” ato menganggu. Kami berada disisi seni yang menganggu tetapi tetap seru.

Lalu kenapa grup fb nya dibuat closed group?
Awalnya kami open group tetapi setelah member semakin banyak, tak terhitung iklan sampah muncul di wall dan juga postingan gak jelas, maka kami (karena ada beberapa admin grup FB) sepakat membuat Close Grup. Jadi ada semacam filter juga buat membersnya.

 

painsugar.blogspot.com
cygnuslab.wordpress.com