EVENT – TATTOO MERDEKA 2018

TATTOO MERDEKA 2018, Wujud Kepedulian Masberto

 

Komunitas GENTO, Gerombolan Tukang Tato, kembali menghadirkan acara tahunan “Tattoo Merdeka” untuk yang ke-5 pada 17 Agustus 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Lewat GENTO, acara tato tak hanya diperuntukkan bagi masberto, masyarakat bertato, saja, melainkan dipersembahkan pada publik yang lebih luas. Sebab, secara khusus, gelaran “Tattoo Merdeka” merupakan respon komunitas terhadap peristiwa sosial, politik, dan budaya mutakhir – yang tiap tahun ditentukan oleh komunitas lewat tajuk tertentu. Tahun ini, dipilih judul “Berbeda Tetap Satu” sebagai sikap yang tak henti-henti, atau dirasa justru semakin lebih mendesak untuk terus dikumandangkan, mengingat masih banyak ditemui sikap intoleran oleh berbagai pihak akhir-akhir ini. Bagi GENTO, upaya menghadirkan tema ‘kebhinekaan’ merupakan komitmen sebagai warga negara, yang notabene pegiat tato, untuk menghormati sekaligus patuh dan mengamalkan nilai Pancasila secara konkrit.

Presentasi penting Tattoo Merdeka, selain sebagai cara komunitas tato merayakan hari kemerdekaan dengan berbagai sajian, yang paling utama adalah “Tattoo Charity”, yaitu penggalangan dana dari jasa mentato di saat acara berlangsung untuk hasilnya disumbangkan pada pihak-pihak membutuhkan. Menyimak kontribusi Tattoo Merdeka kepada masyarakat, tercatat beberapa pihak pernah bekerja sama, diantaranya Legiun Veteran Republik Indonesia – Yogyakarta, Panti Asuhan Aisyah dan Sayap Ibu, WALHI Jogja ,Yayasan Kanker Anak dan LPKA Kutoarjo. Tahun ini Tattoo Merdeka  mengalokasikan charity kepada beberapa pihak, diantaranya Panti Penitipan Anak – Yayasan Wiloso Projo Jogja, dan tidak lupa untuk saudara di Lombok yang sedang dilanda musibah akibat gempa bumi. Dana berhasil dikumpulkan total sebanyak, Rp. 11.180.800,00 dan kesemuanya sudah didistribusikan sesuai posnya masing-masing.

Gerombolan Tukang Tato atau yang lebih akrap disebut GENTO merupakan komunitas dengan anggota kebanyakan penato yang berdomisili di Jogja. Komunitas ini ada sejak 2012, dibentuk atas latar belakang kesamaan profesi, penato, dan hadir dalam bentuk yang lebih cair, yaitu menjalin keakraban antar sesama anggota, atau dalam bahasa mereka menjadi lebih ‘semedulur‘ (kental dalam bersaudara). Menghadirkan program sebagai kerja sosial, barangkali menjadikan komunitas ini penting dan layak diapresiasi. Meski stereotipe negatif para masyarakat bertato kian luntur, setidaknya lewat kegiatan Tattoo Merdeka, lebih mengukuhkan persepsi publik mengenai pemakai tato yang tak melulu identik dengan kriminal. Bahkan lebih jauh dan terasa mulia, mereka ada, menyumbang nilai guna, juga memberikan kesadaran akan kepedulian kepada saudara kita yang kurang beruntung.

Keberlangsungan Tattoo Merdeka terbukti konsisten setiap tahun, hingga hari ini program masih dikelola oleh komunitas GENTO dengan cara mandiri, semua kerja kepanitiaan lewat berbagai divisi digarap oleh member komunitas. Hal tersebut sengaja GENTO pilih, tanpa harus melibatkan event organizer profesional, sebab bagi mereka proses kebersamaan lewat kepanitiaan itulah yang menambah rasa akrab dan solidaritas, sehingga kerja benar-benar dilakukan atas dasar ketulusan.

Menurut Helly Mursito, salah seorang koordinator, menyampaikan “Tattoo Merdeka 5 kali ini dirasa sangat istimewa, selain karena semakin didukung masyarakat luas, kali ini juga mengambil venue di Taman Budaya Yogyakarta yang letaknya sangat strategis berada di pusat Kota Yogyakarta.” Selama penyelenggaraan berturut-turut, Tattoo Merdeka tak absen mendapat dukungan dari berbagai kelompok dan komunitas yang sekaligus menjadi mitra program. Hal tersebut kiranya merupakan iklim yang khas, berkesenian di Jogja, yang terhubung antar komunitas, mereka seringkali secara bergiliran saling membantu dan mengisi. Pada tahun ini beberapa komunitas yang turut terlibat diantaranya, Jogja Record Store Club yang mendisplay koleksi musik rilisan fisik. Kolektif seni fotografi kontemprer MES 56, membuka afdruk foto kilat, membuat foto sebagai  souvenir kunjungan. Komunitas Rontek Bergerak menampilkan karyanya di langit-langit galeri bersamaan dengan areal perang tato. Adapun dari kawan-kawan street art artist Yogya, diantara Rolly Love Hate Love, Ismu Ismoyo, Tuyuloveme dan Sicovecas menampilkan performance grafiti saat acara berlangsung.

Cukup unik dan sayang untuk dilewatkan adalah upacara bendera, yang telah menjadi ritus penting tiap perayaan Tattoo Merdeka. Upacara adalah aktivitas yang paling serius bagi Gento, sebagaimana mereka ucapkan “Dalam banyak hal kita sering bercanda, namun kalau soal upacara, kami serius.” Upacara bendera khidmat dilaksanakan, pada kesempatan ini menghadirkan komandan upacara,  Lulut Wahyudi, tokoh modifikasi kendaraan bermotor yang menginisiasi gelaran Kustomfest. Adapun peresmian acara dilunaskan dengan potong tumpeng bersama Bob Sick Yudhita, sang presiden tato, dan seniman kontemporer yang sudah legendaris sejak hidup. Petugas upacara yang terlibat mengenakan pakaian adat nusantara sebagai penghormatan atas keberagaman. Peserta upacara pun boleh diikuti oleh siapa saja yang tertarik, dengan cara  mengenakan kostum sesuai tema acara, mereka tak harus bertato. Selain Tattoo Charity, juga terdapat Perang Tattoo yg diikuti oleh para penato dari seluruh Indonesia yeng terpilih sejumlah 50 penato. The Best Perang Tattoo 2018 diraih oleh Bangkit Sukristiono dari Cilacap.

Panggung musik diramaikan oleh beberapa band dengan atmosfer layaknya gigs. Musik ditampilkan beragam genre serta lintas generasi. Diantaranya tampil Dream Society, Kiki and The Klan, Apollo 10, Gerap Gurita, Coctail Blues, Kopibasi, Artillery, dan pamungkasnya Kelompok Penyanyi Jalanan yang berkolaborasi dengan musisi legendaris, Sawung Jabo. Terkhusus penampilan Gerap Gurita, ketika mereka membawakan lagu Jogjakarta serasa terobati kerinduan memori era 2010an yang mana dekat dengan dunia gigs; scene musik indie Jogja, distro, dan banyak pernak-pernik urban lainnya. Persembahan lagu tentang Yogyakarta bisa jadi merepresentasi orang-orang yang hadir dalam acara itu. Sebagaimana dikutip daqlam lirik mereka, “….Jogjakarta.. Kota kita tercinta, mari kita jaga bersama!…” di mana lagu ini juga mengenang musibah Gempa beberapa tahun silam, “..27 Mei 2006 pagi hari terjadi gempa runtuh lantakkan Jogja..” Gerap Gurita menyanyikan kembali dan hendak mengajak kawan-kawan untuk peduli dan membantu saudara di Lombok yang sedang mengalami nasib serupa.

 

Kolektif GENTO, terhitung cukup aktif berkegiatan seni. Tak hanya membuat program tahunan Tattoo Merdeka, mereka juga kerap berpartisipasi sekaligus membangkitkan gairah berkesenian lewat tato. Belum lama, GENTO mendapat undangan menyajikan karya bersama di gelaran Biennalee Jogja 2017, juga secara rutin mengorganisir konten Body Art Show and Contest di gelaran kreasi modifikasi terkemuka KUSTOMFEST. Pernah melakukan pameran kelompok “Guyub Rukun” di Asmara  Art and Coffee Shop. Para membernya kerap diundang berpartisipasi di beberapa event tato nasional. Dalam praktik berkomunitas Gento juga kerap menggarap nilai-nilai lokal dengan moda kerja yang identik dengan tato.

Tattoo Merdeka, bagi komunitas GENTO merupakan ruang persaudaraan yang yang lebih cair dan terbuka, ruang tersebut tak hanya memungkinkan bertemu bagi peminat tato saja, melainkan kepada siapapun untuk bersama-sama berbagi kebaikan. Lewat ketulusan dan dedikasi mereka, esok kelak, bisa jadi, masyarakat bertato justru identik dengan perbuatan baik dan positif. Maka, bertato ataupun tidak, sama dengan slogan mereka: “Berbeda Tetap Satu.”

 

Text: Huhum Hambilly | Photo: Tattoo Merdeka