EVENT – PERTUNJUKAN TATO ‘TUMPENG MOOI GIRI’ DI PAMERAN “4 SEHAT 5 SEMPURNA”

Alit Ambara, aktivis yang juga seniman poster, cukup bersemangat namun juga tergopoh-gopoh ketika memandu sebuah pertunjukan tato “Tumpeng Mooi Giri”. Agaknya Alit kecapekan, mungkin juga mabuk, sebab kurang lebih selama 3 jam bercerewet sebagai MC pada malam pembukaan pameran “4 Sehat 5 Sempurna” di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan, Bantul pada 12 Juli 2018. Tajuk pameran yang identik dengan ‘hidup sehat’ tersebut menampilkan 4 perupa, diantaranya Ampun Sutrisno, Kuart Kuat, Ledek Sukadi, Lukman Van Gogh dan Rismanto. Menurut Bambang Herras, salah seorang pendukung dalam pameran tersebut, melihat bahwa para peserta pameran merupakan pria-pria yang sesungguhnya sering ‘runtang-runtung’ dan aktif di segala peristiwa budaya, mereka adalah para perupa dan aktivis seni yang tidak bisa diam dan tidak bisa diduga gerakannya. Gelaran Pameran tersebut hadir dan dikawal oleh “Pamrih Art Manajemen” dengan model presentasi ‘tunggal bersama’, setiap seniman fokus pada topik dan karya artistiknya masing-masing namun tanpa meninggalkan nuansa kebersamaan.

Berbeda dengan slogan mengenai “4 Sehat 5 Sempurna” secara umum, dalam pameran ini lebih mengacu pada komposisi yang terdiri dari olah rasa, olah karsa, olah raga dan olah harga, disempurnakan menu ke-lima tetaplah susu sebagaimana rekomendasi umum pakar gizi. Sebab tanpa susu, “kita bisa bermartabat rendah”, jangan sampai kurang susu, kata Samuel Indratma, kurator pameran. Namun yang jelas, alkohol adalah menu utama bagi MC Alit Ambara, yang di waktu pembukaan terlihat paling bersemangat dan berbahagia. Alit, pada malam itu bak aktivis tato, lebih khususnya, ia melakukan orasi seni tato dalam lingkup medan sosial seni rupa kontemporer Jogja.

Penampilan tato menampilkan Nyoman Asgra sebagai penato, Ampun Sutrisno model, Alit Ambara sebagai Host dan pretelan personil Ikhlas Experience sebagai kolaborator musik. Selama proses tato diiringi musik, Alit berpidato, ada yang cukup provokatif, ia menyampaikan “Belum seniman kontemporer kalau belum bertato!”, ia juga mengatakan bahwa untuk selanjutnya, para seniman yang berpameran di Bale Banjar Sangkring wajib membuat tato sesuai desain karya rupanya, ia juga menambahkan bahwa membuat tato adalah tindakan yang religius bin spirituil, di akhir-akhir ia berucap “Semoga Dinas Kebudayaan memaklumi semua yang terjadi malam ini.” Diiringi musik selama proses berlangsungnya tato, Alit juga nyanyi-nyayi hore, “Mari mari kita bertato! Anak SMA juga boleh bertato”, “Tato, tato tato…… ayo kita bikin tato, tato ini akan jadi ritual dan budaya yang terus berlanjut…..” Begitu terusannya, tambah minum-tambah cerewet.

Dalam pidato yang dijabarkan Samuel Indratma, selaku kurator pameran, ia menyampaikan secara umum karya-karya yang dipamerkan. Lukman misalnya, ia antusias lewat ratusan karya untuk memperlihatkan bahwa Lukman bekerja tanpa mengenal waktu, “Karena kalau mengenal waktu bukan Lukman, sebab Lukman tidak mempunyai jam tangan” ucap Kurator yang lebih dikenal sebagai Bapak Mural. Lukman adalah pekerja yang lupa waktu, ia belum berkeluarga, itu juga menjadi kegembiraan internal dan intrinsik, lihat warna-warni karya Lukman, mengingatkan kita pada ‘gambar umbul’, di mana ketika diterbangkan mampu menimbukan impresi warna tersendiri, impresi inilah yang tergambar dalam karya Lukman Van Gogh yang menurut Alit adalah kerabat pelukis terkenal Vincent Van Gogh.

Berbeda dengan Ampun Sutrisno, ia adalah penemu semangat mooi giri. Semula orang bisa mengoreksi dengan mooi indie, tapi oleh sebab Ampun hidup dalam lanskap Imogiri maka nama yang tepat adalah “mooi giri”. “Kehidupan Ampun selalu berada di ‘selingkungan’ (kata spontan dari Samuel) – diselingkungi oleh tetumbuhan, ia dihimpit tumbuhan di Imogiri yang subur dan rapat.” “Hidupnya sudah dekoratif sejak dalam kandungan.” Tambah Samuel yang disambut tawa sebagian pengunjung. Jika melihat karya Ampun Sutrisno penuh dengan onak dan duri, itulah sebenarnya Imogori, “Kemudian Imogirinya dikawinkan dan dituntaskan dalam mooi giri, sementara dekoranya itu selingkungan dari pekarangannya sendiri.” Hadirin sejenak terdiam.

Sementara Kuat, karya yang digeluti menjadi persoalan bukan hanya mistis, namun juga mistis yang ritmis. Diketahui bahwa Kuat telah menghamili pembuat Gudeg termasyhur, perempuan bernama mbak Ita adalah pemegang lisensi gudeg Siluk. Estetikanya juga dibagun dari upaya bagimana ia menemani sang istri mencari telor, ini menjadikan semacam “Penetrasi artistik yang berminyak.” Kuat sendiri hidup di selingkungan Siluk, di bawah Jembatan Siluk, tempat tersebut semula jadi lokasi pembuangan sampah. Lewat daya kreatifnya, Kuat mencoba sampah tersebut diuangkan, dikapitalisasi, hasil dari upaya tersebut guna membangun perpustakaan dan tempat belajar, yang kemudian hari dikenal sebagi “Jembatan Edukasi Siluk”. Kuat yang semula berada dalam persoalan sosial kini menjadi persoalan artistik, “Maka dari itu, sampah masyarakat digubah menjadi sampah artistik… ini crazy, ini crazy!” Lewat kerja artistik tersebut menjadikan “Kuat yang mulanya di luar memandang jadi masuk dan dipandang.” Begitu ucap Samuel yang heran sendiri dengan perkataannya. Alit menanggapi bahwa Cultural Studies tak mampu menjawab persoalan tersebut, maka ia menyampaikan “ Crazy, crazy, ini crazy banget…. tolong dicatat ini ‘lesson curatorial’.”

Berikutnya Ledek Sukadi, ia adalah orang yang sangat intensif ingin menjadi Jawa seperti apa. Ledek yang hidup di ‘selingkung’ Jawa sebetulnya punya orientasi keluar dari Jawa, tapi wadagnya ada di Jawa, ia tinggal di Jawa tapi ingin menjadi Jawa. Karya Ledek menghadirkan ayam, lewat ayam ia intens menekuni anatomi, fokus pada kaki, kepala, badan, ia kroscek terus, hingga mempertanyakan ulang “Ini ayam bener atau tidak.” terang Samuel. Ayam menjadi kerja yang sangat teliti bagi lelaki Jawa, anatomi menunjukan kapasitas artistik, “Inilah historikal anatomi dari kultural—kultural anatomikal human being” Alit menanggapi pernyataan tersebut dengan “Ini penemuan baru dalam kuratorial kita, sekali lagi dicatat!”

Terakhir Rismanto, kita akan dihadirkan pada alat-alat berat yang terkesan negosiatif. “Lewat kendaraan berat ada teks yang dirembug, anda menyaksikan nama Caterpillar yang berubah jadi; anteng, madhep, mantep, menyimpulkan spiritual unik”. Rismanto si tua-tua vandal, ia menempelkan stiker besar-besar pada alat berat, dialah vandalis, seorang java vandalis. Samuel memberikan panduan untuk menyaksikan dan menikamti pameran lewat sebalah kiri, sebagaimana dalam anjuran Apill, dengan ini akan dimungkinkan mendapat sensasi, apalagi jika berminat membeli karya, para kolektor jika menginginkan karya menunjuk dengan tangan kiri akan lebih afdol, “yang itu mas!”, “Inilah sebuah pidato kuratorial yang dibuat selama 2 minggu dan terus direvisi setiap menit, terima kasih selamat berpameran, mereka adalah cah kerjo!” tutup Samuel dalam pidato pameran.

Pameran “4 Sehat 5 Sempurna” berlangsung dari 12 hingga 25 Juli di Bale banjar Sangkring. Sebagaimana ruang Bale Banjar Sangkring yang lebih menekankan pada presentasi kolektif dengan visi edukatif, pameran menjadi penting untuk diketahui dan diapresiasi. Para seniman terlibat adalah gerilyawan-gerilyawan yang cekatan dalam aktivitas perkembangan seni rupa Jogja mutaakhir yang barangkali kurang mendapat sorotan utama. Dari jumlah karya, kualitas yang ditampilkan maupun pengunjung yang hadir begitu banyak, membuktikan bagaimana mereka berhasil dalam memperjuangkan tugas, baik tugas kreatif maupun tugas sosial. Penampilan Tato yang hadir dalam pameran juga menjadi peristiwa penting, lewat kegiatan mentato para perupa sesungguhnya menampilkan kreasi tato dengan lebih eksperimental, dari desain tato yang mencirikan gaya lukisannya hingga kolaborasi bersama musisi dan orator.

Teks dan Foto: Huhum Hambilly