EVENT – KUSTOMFEST 2018

Kustomfest 2018, Geber Kreativitas

 

Sejak 2012, Kustomfest; Indonesian Kustom Kulture Festival setiap tahun secara rutin menghadirkan gelaran yang secara umum bermaksud mengapresiasi karya kreatif berbasis kendaraan bermotor. Tak hanya mengakomodir karya-karya kendaraan bermotor Kustomfest juga identik mempresentasikan berbagai macam karya anak bangsa yang bersifat alternatif, cutting edge, subkultur, underground – dekat dengan dunia dan gaya hidup kustom kulture, seperti musik, tato, fashion, street art, stunt rider, junkyard dan sebagainya. Alhasil, berbagai elemen yang hadir dalam pergelaran selama 6 dan 7 Oktober 2018 secara tematik merespon spirit kustom atau modifikasi, di mana secara gamblang bisa melibatkan apa saja lewat kerja kreatif.

Sebagaimana disampaikan direktur penyelenggara Lulut Wahyudi, “Dunia kustom adalah hal yang tanpa batas, bisa menabrakkan apa saja menjadi sebuah karya yang inspiratif.” Maka setiap tahun penyelenggaraan, pihak Kustomfest selalu berupaya menghadirkan kejutan ‘gila’sekaligus inovatif. Tahun ini, tindak lanjut eksplorasi tersebut diaktualkan dengan salah satunya, mengkolaborasikan dunia kustom dengan dunia kedirgantaraan dengan melibatkan pihak TNI AU. Sebuah lucky draw, hadiah undian, berupa motor kustom bernama “Belo Negoro” dengan mesin Harley Davidson Sportster 833 Evolution, terinspirasi dari pesawat tempur Perang Dunia II, yakni Mustang P-51. Karya tersebut juga dibuat untuk menghormati para pahlawan di dunia militer tanah air. Adapun Kustomfest memamerkan pesawat “RI-X WEL” yang disebut-sebut memuat spirit kustom sebab dibuat memakai mesin motor Harley Davidson WL 45ci.

Lewat dunia kustom kulture, Kustomfest ingin memberi kontribusi konkrit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan warga dunia. Mereka membuat beragam program lewat berbagai proyeksi terkait situasi politik mutaakhir, industri otomotif, korporasi pendukung dunia kustom, pariwisata, dan barang tentu berbagai fenomena anak muda di ranah kreasi modifikasi – dalam bahasa mereka adalah ‘jamaah kustomdiniyah’ (para penggemar kustom). Tajuk Color of Different sengaja ditawarkan guna meredam situasi politik Indonesia yang makin memanas, di mana masyarakat rentan terpecah dalam kubu-kubu tertentu. Event tersebut dibuat untuk merayakan keberagaman dan mengajak semua untuk menerima perbedaan sebagai anugerah.

 

Salah satu konten acara, Body Art Show and Contest , berhasil terlaksana atas kerjasama dengan Tattoo Merdeka yang juga member komunitas Gerombolan Tukang Tato Yogyakarta. Tattoo Merdeka yang identik dengan tattoo charity, membuka jasa mentato untuk hasilnya disumbangkan pada pihak yang membutuhkan. Pada kesempatan ini mereka membuat charity untuk Palu dan Donggala. Belum lama, saudara-saudara kita di Palu dan Donggala mengalami musibah gempa dan tsunami yang menelan ratusan korban jiwa yang membutuhkan berbagai uluran tangan. Tattoo Charity diikuti oleh beberapa penato seperti, Theo Fabri Badskins Tattoo, HohoMbyk, Bonbon Tattoo, Mada Kumis Tattoo, Leak Home Tattoo, dll. Ada juga performance hand tapping tattoo oleh Riki Yonda dan Kulit Babi Tattoo, yang di hari kedua berkesempatan menato secara tradisional bintang tamu Christian Sosa. Di hari kedua tattoo perform diikuti Deddy Tattoo Art, Sick Gul Dead Line Artwork, Revon Tattoo, Kojhun Tattoo, Dwi Chowrank Tattoo, Rudolvo Tattoo, dan Work Ink Tattoo. Beberapa diantaranya melakukan pertunjukan berupa ‘suicide tattoo’, dengan cara menato diri sendiri.

 

Gelaran Kustomfest telaah menjadi ikon festival modifikasi kendaraan bermotor yang tidak hanya ditunggu-tunggu oleh bikers dan builders, melainkan banyak pihak yang tertarik pada kreativitas. Masing-masing konten berjalan secara meriah dan bersatu padu menjunjung semangat kustom. Model kolaborasi juga menjadi metode unik, mengingat banyaknya karya berlabel ‘X’ dalam berbagai produk, seperti Kustomfest X Von Dutch – X Wrangler – X Jogjarockarta – X Eiger dan X X lainnya. Hal ini bermaksud membangun ekosistem industri yang berkepribadian, sehingga citra ataupun pergerakan Kustomfest punya nilai tawar yang unggul. Kerja ini patut diakui sebagai pelajaran berharga bagi para penggiat event lainnya, terkhusus bagi mereka yang berbasis komunitas.

 

 

Teks: Huhum Hambilly | Foto: Furqan Nugraha