A password will be e-mailed to you.

LAURA APRILIA

Memulai karir tatonya secara profesional sejak tahun 2005, tahun ini adalah tahun ke-11 Laura menekuni seni rajah tubuh. Sebagai salah satu penato perempuan Indonesia ‘first wave’ di tahun 2000an, mungkin tidak banyak yang begitu mengenal sosoknya, atau malah tidak sedikit yang  sudah menjadikannya role model. Sekilas keliatan galak, tapi Laura ramah dan baik banget lho, mau ngobrol ama Magic Ink 🙂

Lagi sibuk apa aja nih sekarang? Pindah studio lagikah?
Sekarang ini saya masih dengan kesibukan tato, menambah yang kurang-kurang di studio, memperbaiki yang harus diperbaiki di studio. Belum sempurna di mata saya, but it’s getting there. Pindah studio sebenarnya sudah 1 tahun. Alamat masih sama; Kemang Selatan VIII, Jakarta Selatan; hanya pindah ke lantai 2 sekarang.

Ceritain dong tentang awal mula kami masuk dunia tato..Trus kok bisa tertarik jadi tattoo artist, kalo gak salah di taun-taun segitu (2000an) kan masih banyak didominasi cowok ya, ada kendala tertentu kah pas memulai karir?
Diawali menjadi customer tato, lama-lama mengamati, tertarik, kemudian tertantang, lalu membuat keputusan untuk menekuni.
Latar belakang saya di universitas sebenarnya adalah komunikasi. Namun gambar, musik adalah hobi sejak kecil. Saat itu, saya tidak pernah melihat seniman tato perempuan. Lalu saya berpikir: “kenapa tidak saya mulai saja?” Saya beruntung karena mendapat kesempatan. Tahun 2005 saya bertemu warga negara Singapore, Nick Lim, yang mementori saya menjadi seniman tato profesional. Tidak semua orang yang memiliki kemauan; mendapat kesempatan. Pun, difasilitasi penuh., lengkap dengan management yang profesional. Hidup saat itu indah, tapi terlalu mudah. Saya menjadi naif. -yang akhirnya mendapat pelajaran: kembali ke nol. Secara alamiah; sebagian dari kita memimpikan untuk memiliki/menjalankan usaha itu (tato) sendiri. Saya pun demikian. Tapi, darimana modal? Kembali ke Bogor, saya datangi toko-toko dengan berjalan kaki; menawarkan kerjasama tato temporary dan permanen, satu persatu. Seperangkat ‘starter kit’ untuk tato permanent saya dapat dari hasil pinjaman. Panggilan rumah untuk tato temporari yang tidak seberapa saya terima. Akhirnya ada satu toko pernak-pernik yang tertarik. Saya mulai punya penghasilan lagi. Tidak cukup. Saya perlu penghasilan tetap. Desember 2006 saya kembali ke Jakarta. Saya diterima menjadi bartender di Jakarta. Bertemu banyak orang asing setiap harinya. Mengambil pelajaran sendiri dari pekerjaan itu. Pulang kerja jam 2 pagi. Masih harus membuat jarum tato (belum ada supplier tato saat itu). Hari libur saya pergunakan untuk menato; yang kebanyakan client saya dapat dari bar tempat saya bekerja saat itu.
Sampai tahun 2010, saya masih menato lepas di studio-studio teman-teman atau panggilan ke rumah, keluar kota/ daerah. Di Jakarta, Yogyakarta, Bogor-Puncak, Plabuan Ratu. Menato di pantai, gunung, kampung. Pagi, tengah malam, hujan, apapun.
Tahun 2011 saya beruntung lagi. Berkesempatan membangun studio saya sendiri, dan masih berjalan sampai sekarang. Saya merasa gender itu tidak ada hubungannya dengan usaha tato. Setiap individu seniman punya khas/keunikan masing-masing. Punya daya jual masing-masing. Punya pangsa pasar masing-masing.

Apa bagian yang paling sulit dalam proses belajar menato?
Mengenai kesulitan di dunia tato, di posisi saya; sebagai pelaku seni tato, pemilik usaha, dan self employee.Tidak sulit, pun tidak mudah, ketika kita harus menjadi seniman, di saat yang sama terkadang menjadi pendengar, pembersih studio, pelaku medis (padahal bukan), me-manager-i diri sendiri, pelaku marketing, menstrategi semua hal, sendiri. Hahaha..!!! ‘At the end.. When I look back.. I just laugh!’

Selanjutnya…

1 2 3