NANDI YOGA MENATO KANVAS

Nandi Yoga, salah seorang penato sekaligus perupa tengah memamerkan serial karya lukis “Wajah Bertato” selama kurun 6 sampai 20 Juli 2018 di Galeri Seni R.J Katamsi, Jl. Parangtritis, Km. 6, 5, Yogyakarta. Karya ini merupakan bagian dari Tugas Akhir studinya di jurusan Seni Murni, konsentrasi Seni Lukis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan memuat tajuk “Wajah Bertato Sebagai Inspirasi dalam Seni Lukis.” Tak hanya untuk kepentingan akademis semata, 20 karya lukis yang ia ciptakan juga menjadi monumen proses kreatifnya baik dalam dunia tato maupun seni lukis.

Secara umum karya lukis yang Nandi sajikan memuat portret wajah bertato yang merepresentasi kepribadian sosok yang ia lukiskan berikut kehidupannya, juga secara atribut memuat profil profesi masing-masing figur. Lewat karya lukis ‘Wajah Bertato’, Nandi Yoga hendak membuat reportase mengenai fenomena tato di wajah sebagaimana yang bisa ia saksikan di masa ia berkarya. Nandi menyampaikan, “Wajah bertato menjadi menarik bagi saya karena keberanian tiap individu membuat identitas baru yang sangat terlihat, meskipun di Indonesia tato masih dipandang sebelah mata.” Hal inilah yang juga menjadi latar belakang ia menampilkan serial tato dalam lukisan. Pada hari pembukaan pameran, penato kelahiran Jogja ini membuat demo menato di wajah, untuk memperlihatkan kepada publik bagaimana proses mentato di bagian wajah. Para pengunjung cukup tertegun menyaksikan peristiwa ini.

Karya lukis Wajah Bertato memuat 20 sosok, mereka hadir dari beragam medan juga lintas usia. Beberapa mudah dikenali. Dalam ranah penggiat dan komunitas tato tanah air, terlukis Aman Durga Sipatiti, Danang Spike, Tarom Barokah, Pak Jack Semarang, dan Hendro Dewisura. Di ranah musik, hadir Bob Marjinal, Mike Marjinal dan Ras Inggi. Ada juga Bob Sick, seorang perupa kontemporer ternama yang karyanya kental dengan spirit ala Basquiat. Kemudian gambar Rahung Nasution, aktivis kuliner Nusantara yang juga pembuat film “Mentawai Tato Revival” . Adapun pendeta fenomenal asal Semarang, yang pernah diundang dalam program “Kick Andy”, adalah Agus Sutikno. Beberapa karakter tersebut sengaja Nandi pilih oleh sebab mereka tokoh yang inspratif, “Terutama bagi masyarakat yang memiliki tato.”ucapnya. Nandi menggambarkan model lukisan para masyarakat bertato Indonesia yang masih eksis hari ini.

 

Nandi juga memilih sosok-sosok yang baginya memiliki sisi unik, lebih khusus kepribadiannya. Beberapa merupakan kawan dekatnya di seputar Jogja, seperti Nadia, Ricky Cunk dan Triw. Lewat mereka, Nandi lebih memilih metode wawancara mendalam, spesifik mengenai kehidupan personal antar masing-masing. Nadia misalnya, dengan bertato kerap mendapat job foto model dan endorser untuk katalog-katalog produk online. Ricky Cunk sebagai cuplikan dari dunia kustom kulture dan scene hip-hop. Triw lebih menampilkan bagaimana dia seorang vegetarian dan freestyler BMX. Narasi-narasi yang dibangun lukisan tersebut banyak menceritakan latar belakang sosok dengan menghadirkan benda-benda, seperti alat cukur, alat sablon, alat memasak dan lain-lain. Nandi juga menawarkan materi-materi secara simbolik. Sebagaimana ia katakan, misal soal burung, “Burung adalah hewan yang mempunyai sayap dan bisa terbang kemanapun yang diinginkan. Burung dalam karya saya dimaksudkan  sebagai simbol kebebasan setiap individu wajah bertato, karena tato tidak ada batasan kecuali dari diri sendiri yang membatasi.” Nandi menambahkan, bahwa pemilihan sosok tersebut tak hanya karena bertato semata, “Mereka sengaja saya pilih dengan kriteria bahwa mereka berkarya dengan produktif dan positif.”

Untuk obyek tato wajah dengan gambar peta Indonesia,  tato di mata, tato ala gangster pada sosok yang  menggendong anak, Nandi lebih mempresentasikan fenomena tato wajah di kalangan subkultur tato dalam konteks lokal. Secara visual lebih menunjukkan pada daya pikat visual tato secara estetis, beberapa juga lebih nampak mengandung daya ekstrim. Oleh sebab Nandi sebagai perupa yang memiliki kesadaran berkarya dengan metode formal, kiranya karya nya lebih menawarkan diskursus pada medan tato secara lebih spesifik, juga barang tentu sebagai praktik produksi karya seni rupa kontemporer. Misal lewat melukis peta Indonesia di wajah, ia tengah menawarkan beragam tafsir lewat karya lukisnya.

 

Kehadiran peta Indonesia dalam Tato wajah memungkinkan pembacaan makna seputar nasionalisme, ke-Indonesiaan, kebhinekaan, integritas hingga hal-hal lebih luas dari sekedar tato di wajah. Pun dalam visual lain yang menampilkan tato wajah dengan imej ala Mexican yang identik dengan geng, Nandi menawarkan wilayah tafsir dari bagaimana tren subkultur gangster lewat musik hip-hop tersebut kemudian berkembang, diimitasi hingga diadaptasi para anak muda di Indonesia. Namun ia tak menampilkan dalam nuansa seram, justru terkesan penuh nuansa kasih sayang seorang Ayah dan Anak (mungkin), kasih sayang keluarga, dan lebih luas kasih sayang sesama manusia.

Sedikit berbicara mengenai lukisan Nandi Yoga dalam aspek formal, bahwa proses kreatif seni rupa Nandi dibangun oleh tarik ulur atau ulang alik dunia formal dan informal (subkultur), ia memuat konsep estetika kontemporer beserta narasi-narasi manusia Indonesia lewat tato. Bagi Nandi, tato seperti telah menjadi instrumen dalam berkesenian, lewat tato ia lebih leluasa dalam menggauli berbagai aspek kehidupan, praktis namun sekaligus filosofis. Melihat pameran Nandi adalah melihat masyarakat bertato dengan segala kehidupannya, tato dalam karya Nandi lebih menampilkan aspek pluralitas. “Keberagaman dan latar belakang yang berbeda-beda tato di wajah membuat saya lebih tertarik untuk menuangkan ke dalam bentuk seni lukis.” Kata penato yang hobi modifikasi kendaraan.

Nandi mulai serius menggeluti dunia tato semenjak tahun 2011 dengan mendirikan studio Mangsi Tattoo yang berlokasi di Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Kini di usianya yang relatif muda, 25 tahun, karya tatonya telah banyak diapresiasi, terutama lewat kejuaraan tato, diantaranya, The Best 1st Kebumen Tattoo Festival 2013, The Best 3rd Dark Side Freaky Friday 13 Magic Ink 2013, The Best Tattoo Collaboration Kustomfest 2014, The Best Semarang Tattoo Artwork 2016 dan sebagainya. Semenjak 2013, Nandi juga turut aktif bersama komunitas GENTO (Gerombolan Tukang Tato) yang setiap setahun sekali menggelar acara Tattoo Merdeka, sebuah acara tato yang bertepatan dengan hari kemerdekaan dengan fokus pada tema atau upaya kepedulian sosial.

Tato, telah memberinya kehidupan tersendiri, ia cukup diuntungkan dengan tato sebagaimana terlontar dari Dosen pembimbingnya, Arya Sucitra, dalam pembukaan pameran. “Nandi dari tato dapat duit sekaligus dapat gelar sarjana”. Proyek “Tato Wajah” digarap selama 4 hingga 5 bulan, ada beberapa hal memberi kesan tersendiri bagi Nandi, “Dengan tato saya bisa melihat atau mengerti tentang kepribadian lewat berbagai pertemuan wawancara, bahkan saya membaca artikel-artikel yang telah terbit, baik di surat kabar atau medsos.” Ketika mengontak pendeta dari Semarang, Agus Sutikno, saya yang malah banyak ditanyai, tentang mengapa saya mengambil tema ini, saya juga diceramahi dan saya disuruh untuk langsung datang kesana menemuinya untuk berbincang langsung. Begitu Nandi menambahkan.

Pada setiap event tato berlangsung, Nandi seringkali tertarik dan mengamati para pengguna tato. Terutama mereka yang mengenakan tato di bagian-bagian tubuh yang dianggap ekstrim, khususnya tato yang ditempatkan di wajah. Pemandangan tato yang melekat pada wajah seseorang, sering ia jumpai dalam acara tato juga acara musik underground. Salah satu yang menjadi pengamatan khusus Nandi yaitu acara tato tahunan yang digelar di kota Blitar, berjudul  Scum-Art Membangsat, dalam kesempatan pergelaran yang ketiga mengangkat tema khusus yaitu Tattoo War on Da Face.

Acara ini, baginya menjadi menarik karena berbeda dari event tato sebelumnya, yaitu mengadakan lomba menato dengan khusus di areal kepala, terutama wajah. Dugaan Nandi, panitia acara Tattoo on Da Face memilih wajah untuk menarik perhatian khalayak, mereka ingin lebih dari yang biasanya.

Tato di wajah tidak asing di kalangan komunitas tato, tetapi kerap kali dianggap ekstrim ketika hadir di masyarakat umum, pemakai tato wajah selalu menjadi pusat perhatian. Hal ini menjadikan Nandi semakin lebih tertarik kepada pemakai tato wajah karena ada perbedaan pola pikir bahkan perubahan psikologis individu para pengguna tato wajah, sebab para pemilik tato wajah jauh lebih memiliki resiko yang lebih tinggi.

Ada beberapa seniman yang menginsiprasi Nandi dalam menampilkan karya lukis tato.  Shawn Barber, penato dan pelukis asal Los Angles mengeksplorasi tema tato. Lukisannya berfokus pada tubuh-tubuh bertato, potret, dan dokumentasi tentang budaya tato kontemporer. Adapun Haris Purnomo, seorang pelukis realis menginspirasi Nandi dalam bentuk atau gaya yang dihadirkan dalam lukisannya dengan portrait wajah dan figur-figur bertato melalui corak realistik terutama pada ekspresi karakter wajah sehingga sarat simbolik. Lewat lukisan tato Nandi Yoga ingin lebih “Menampilkan para pemakai tato wajah yang mencerminkan sikap tanggung jawab sehingga peran tato tidak menghalangi atau memengaruhi sifat dan perilaku manusia.”

Salah satu pemilik tato di wajah yang sangat populer di Indonesia adalah Bob Sick. Di waktu tato lekat dengan stigma negatif, Bob justru rajin menambah tato, merambah seluruh anggota badan, tidak terkecuali wajahnya. Bob Sick diketahui sebagai orang pertama yang memiliki tato terbanyak, oleh Java Tato ia dinobatkan sebagai “Presiden Tato”. Beda soal dengan Rahung Nasution, Ia memaknai tato sebagai sikap politik. “Dengan menato wajah, artinya aku berkuasa penuh atas tubuhku dan aku menyukai tato.” Menurut Rahung, setiap tato tradisi ada maknanya, bahkan di setiap gambar yang ditato pasti ada sesuatu maknanya.

Sementara, Agus Sutikno, sering disebut pendeta jalanan, karena dirinya sering melayani di kampung-kampung kumuh, pekerja seks, anak jalanan dan transperempuan di seputaran kota Semarang. Tato memenuhi sekujur tubuh Agus, termasuk di wajah. Tato ia didapatkan selama hidup di jalanan, tato-tato Agus menandai masa lalunya. Agus seringkali terlihat tidak peduli mengenai tato di wajahnya. Ketika ia telah menjalani kehidupan baru sebagai pendeta, ia tidak pernah antusias menceritakan arti tato-tato di tubuhnya, baginya itu tidaklah penting selain misi pelayanannya sendiri.

Itulah beberapa kisah mengenai sosok-sosok yang hadir dalam seial “Wajah Bertato” yang juga menginspirasi Nandi dalam membuat lukisan. Melalui karya lukisnya, ia bermaksud menggali makna-makna para pemakai tato wajah. Nandi mengeksplor karakter personal sekaligus menghadirkan beragam konteks yang menyertainya, dari religi, tradisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya. Proses kreatif tersebut dijelajahi meliputi gagasan-gagasan mengenai realita sosial yang tertuang sebagai bahan ekspresi penciptaan karya seni lukis. Akhirnya sajian karya “Wajah Bertato” Nandi Yogya tampil lebih  strategis sebagai upaya dokumentatif, lukisan menjadi sumbangan konkrit dalam menggambarkan perkembangan seni tato di Indonesia. Sebab upaya dokumentasi ataupun kerja literasi di bidang tato masih tergolong minim.

teks: Huhum Hambilly

photo: Huhum Hambilly, Nandi Yoga