RIO BRONX PHOTO

KUSTOM KULTURE – RIO BRONX

KUSTOM KULTURE – RIO BRONX

Orang tuanya, pernah membuka bengkel cat di daerah Pondok Gede, Bekasi. Ketika ia menginjak bangku SMP, bengkel menjadi tempat bermain sepulangnya dari sekolah. Usil dengan peralatan cat, banyak bertanya, dan mencoba berbagai peralatan kerja yang sebut saja ‘menganggu’ menjadi dunia permainan paling menyenangkan. Tak lama berselang, bengkel kepunyaan orang tuanya bangkrut. Semenjak peristiwa itu pribadi Rio berubah, ia mulai didewasakan keadaan, juga ketrampilannya dalam hal gambar mulai memasuki babak baru.

 

Pasca bangkrut, sekitar masa SMA, segala macam peralatan bengkel pindah di rumahnya. Keusilan Rio seperti dimanjakan, ia mulai mengecat sepeda, motor, barang-barang dan sebagainya. Memasuki era 2010, ia menghadirkan porsi weekend, yaitu aktivitas untuk pengarapan cat dengan mode basic paint, cat polos. Baru di sekitar 2011, ia mulai serius, bekerja fulltime, dan membentuk tim. Aktivitas ini menjadi sebab kuliahnya di InterStudi berantakan, untuk akhirnya memutuskan berhenti kuliah. Ia merasa tidak menyesal, sebab sudah percaya dengan kemampuannya. Rio menangguhkan hati untuk serius menggeluti dunianya, kustom paint, dan berharap terus berlanjut. Meski mulanya ia mendapat penolakan dari orang tua. Namun siapa sangka, justru keputusan yang telah Rio pilih sebenarnya telah menghidupkan kembali usaha keluarga. Rio mencoba mengukir karir di dunia kustom art, hingga kini dikenal sebagi pinstriper.

 

Kapan awal mula mengenal pinstripe?

Kenal pinstripe SMA kelas 2 bersamaan dengan sepeda low rider. Dulu ada Lowrider Magazine tahun 2004, di situ di setiap edisi banyak gambar pinstripe. Ada juga tutorial cara membuat flame, water drop, dan pinstripe. Itu majalah Amerika yang di-Indonesiakan, pernah keluar 6 majalah, terbit tiap 2 bulan sekali, di rumah lengkap. Dalam majalah itu ada satu dua lembar artikel dari indo, pernah aku liat seperti berita komunitas Holden di Indonesia. Dari situ mulai nyoba meminstripe lowrider, dan makin mendalami. Pada waktu itu banyak masuk sepeda impor, lalu aku sekalian ambil kuas pinstripe. Aku pinstripe sekaligus ngecat, awalnya pinstripe buat penunjang, lama-lama belajar lebih dalam, kenal temen bengkel kustom, terus masuk ke dunia-dunia kustom sampai sekarang.

Bagaimana cara kamu mempelajarinya?

Benar-benar otodidak dari majalah terus internet sebagai referensi. Pernah tanya seseorang malah direspon kurang menyenangkan, gak dijawab, cuma di lempar-lempar. Mungkin kalo les air brush bisa di dapat di iklan-iklan majalah Otomotif pada saat itu. Nah ini beda, pinstripe. Dulu orang tua gak mendukung sama sekali, mana mau orang tua anaknya jadi tukang cat. Tapi sekarang mereka sudah senang. Bengkel sekarang dikasih lahan sama eyang. Jadi kalau customer datang, orang tua melihat kerja kita serius, mereka merestui dan cukup berbangga. Sekarang ada 4 orang di bengkel. Bengkelku dengan nama “Rio Bronk Pinstripe”.

Bagaimana dengan ‘Event” sampai akhirnya dikenal banyak orang?

Pertama kali bersama teman-teman komunitas motor yang sudah lama. Mereka mulai ngecat di tempat aku. Untuk acara menghadirkan pinstripe, bermula dari acara riding di Jakarta, Rocket Company. Kalo awal, bener-bener awal ikut acara Throttle Twisting Sunday, sehabis itu saya kenal Vero (Kickass Chopper). Kita gak langsung kenal banget, berikutnya banyak kegiatan aku diundang. Ketika Kustomfest pertama, 2012, aku datang, melihat Fahmi (Freeflow), terus di Kustomfest 2013, buka booth sendiri. Memang gak tiba-tiba diundang, dua kali gelaran Kustomfest kita bayar. Dan kustom sudah mulai rame, pinstripe berkembang, kemarin jadi apresiasi, diundang oleh Kustomfest.

Saat ini,apakah profesi pinstripe di wilayah kita sudah mulai dihargai?

Secara umum belum terlalu, client sering nawar, pasti, gak bisa kayak di Amerika. Sejauh ini kebetulan banyak klien dari lingkup motor. Masi belum mencakup semua kalangan, orang kalangan ‘atas’ yang terbuka mengapresiasi, akhirnya pasar kita lebih ke moge, kita bukan mau membatasi dengan motor kecil, karena yang kita jual karya seninya. Belum semua orang main motor menghargai. Aku di bengkel selalu bilang, untuk mereka yang nggak tahu pinstripe aku kasih tahu terlebih dahulu. Biar dia tahu harga mahalnya dimana, sering dateng orang awam yang malah sinis ketika di kasih tahu soal harga. Pinstripe itu handmade dan mahal, tapi banyak juga yang mengatasnamakan handmade lalu dimahalkan seenaknya, padahal hasilnya jelek. Bagi aku handmade yang mahal bukan yang asal handmade, tapi handmade yang serapi mungkin, yang hasilnya perfect banget. Dulu awal aku memulai pinstripe, aku nggak langsung ngejual pinstripe, sampai merasa sudah layak dijual. Kira-kira satu setengah tahun, dari  2010 menghasilkan banyak pinstripe di motor, mainan, helm, dan barang milik temen, tak dijual sama sekali. Sampai akhirnya aku merasa yang paling baik, dan teman-teman banyak yang meminta, baru aku komersialkan.

Ada yang disampaikan ke pembaca?

Yang prinsip, kita hargain karya kita sendiri, kita bandingkan dengan yang menurut kita keren. Kalau belum bagus jangan dijual. Saya sering mengulang pekerjaan, meski salah sedikit, agar perfect, sebisa mungkin jangan sampai mendapat complain.

 

rio bronx (1)

rio bronx (2)

rio bronx (3)