gede adi swandana

ARTIST PROFILE – Gede Adi Swandana

Gede Adi Swandana, memulai karirnya justru bukan di dunia tato, karirnya di mulai dari peran sebagai seorang bartender di Bali. Kemudian pada tahun 2008 ia pindah ke Aussie dan bekerja sebagai welder selama beberapa tahun disana. Pada tahun 2010 ia meminang gadis pujaannya lalu pindah ke Melbourne mengikuti istrinya. Pria kelahiran Patemon, Seririt, Singaraja ini sejak kecil sudah menyenangi kegiatan menggambar dan pada suatu natal, Darleene Miles, istrinya memberinya hadiah berupa mesin tato. Tatois kelahiran 1981 ini belajar secara otodidak melalui facebook dan youtube. Sebelum ia membuka studio pertamanya, ia biasanya menato keluarga dan teman-teman dekatnya saja.

Bagaimana awal cerita Bli Gede bisa buka studio di Aussie ?
Tahun 2012 saya memberanikan diri membuka studio di Langlang, meskipun disini sangat rawan ancaman dari geng motor dan preman lokal, tapi saya tetap membuka studio, akhirnya dengan semangat dan tekad bulat G’day ink bisa eksis di Melbourne sampai sekarang. Tahun 2014 saya buka G’day Ink 2 di Bali tapi sayang tidak jalan karena ketatnya persaingan tattoo studio. Pada tahun yang sama saya juga buka G’day ink di San Remo, Philips Island tapi sayang kita harus tutup karena ada masalah internal. 6 bulan lalu saya tutup studio Langlang dan sekarang buka di Pakenham, dan beruntung saya punya satu artis dari bali yakni Wayan Adi Samsara yang baru bergabung sebulan lalu.

 

Jadi karier sebagai tattoo artist itu malah dimulai waktu di aussie?
Ya, soalnya waktu di Bali orangtua saya sangat anti tattoo, jadi ketika jauh dari orangtua baru bisa ngembangin dan eksis di industri tattoo. Tapi sekarang mereka malah sangat mendukung, bapak saya meninggal 4 tahun lalu, tapi ibu sering ke Melbourne mengunjungi kami, beliau sangat positif tentang hal ini.

bersambung ke halaman 2….